Sabtu, 16 Januari 2016

Cerita Dewasa Kisah Nyata Teriakan Tante Melisa

Cerita Dewasa Kisah Nyata Teriakan Tante Melisa

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata


Cerita Dewasa ini adalah Pengalaman Sex Cerita Dewasa Kisah Nyata Teriakan Tante Melisa merupakan pengalaman sex yang sangat susah untuk di lupakan. Cerita sex kali ini berdasarkan pengalaman dari pengirim cerita yang tidak mau di sebutkan nama nya , untuk menghormati itu kami menggunakan nama palsu dalam Cerita 17+  kali ini.Untuk itu silahkan langsung di simak cerita nya :

Saat itu aku di ajak ama temaku untuk melihat sebuh lukisan yang d buat oleh teman cewekku dia adek kelasku satu tahun, sesampainya di rumahnya ada seorang wanita cantik dan seksi pokoknya top banget dah menurutku.

“Eh Git sapa tuh?” tanyaku
“Oooooo Tante aku tuh Ndy kenapa? Suka?”..
“Yeeee enak aja loe,” jawabku.
“Yuk aku kenalin ama Tante aku, ajak Gita”
“Aloooo Tanteeee,” kata Gita”..
“Ehhh udah pulang Git,” tanya Tante Melisa?
“Iya Tan,” jawab Gita..
“Oh iya Tan kenalin nih temen Gita”.. lalu Tante Melisa mengulurkan tangannya begitu juga aku..
“Melisa,” katanya.
“Andy,” kataku, waaahh tangan nya lembut banget langsung otak aku jadi gak karuan untung Gita ngajak aku masuk kalo gak udah deh otak aku ngeressssss. Cerita Sex 2016

Sesudah aku ngeliat hasil lukisan si Gita aku ngobrol-ngobrol ama Gita dan Tante Melisa. Enak juga ngobrol ama tantenya Gita cepet akraban orangnya tapi setengah jam kemudian Gita pamit ke belakang dulu otomatis tinggal aku dan Tante Melisa saja berdua.
Tante Melisa yang memakai celana street dan kaos tipis membuat jatungku mulai gak karuan, tapi aku ngejaga supaya tidak ketauan kalo aku lagi merhatiin Tante Melisa, kami ngobrol ngalor-ngidul lama-lama duduknya semakin dekat denganku waaahhhh,

Makin dag dig dug aja nih jatung aku.. gimana enggak Tante Melisa yang putih mulus itu duduknya ngangkang bebas banget pikirku apa dia kaga malu ama aku apa? Lambat laun pembicaraan kami mulai menjurus ke hal-hal yang berbau sex.
“Ndy kamu punya cewe?” tanyanya.
“Blom tan,” jawabku
“Tante sendiri kok sendirian …?”
“Hhhmmmm gak kok kan ada Gita.”
“Maksud saya laki-laki yang jagain Tante siang dan malem lho.”
“Ooooooo Tante cerai sama om 2 tahun yang lalu Ndy…”
“Tante gak kesepian..?”
“Tak tuh kan ada Gita.”
“Maksud saya yang nemenin Tante malem hari.”
“Ih kamu nakal yah.” kata Tante Melisa sambil mecubit paha ku. Otomatis meringis kesakitan sambil tertawa… hehehhehee…
“Bener Tante gak kesepian, aku bertanya lagi..?” Tante Melisa bukanya menjawab, dia malah memeluku sambil menciumiku, aku kaget campur seneng. sewaktu kami begumul di ruang depan tiba-tiba Gita dateng,

Untung tadi pintu yang mau ke dapur tertutup kalo ketauan Gita bahaya nih.. kami menghentikan pagutan kami.. lalu Tante Melisapun pergi ke kamarnya sambil malu-malu. Setelah Gita datang aku langsung pamitan, lalu aku pamitan ama Tante Melisa.
“Tante, Andy pulang dulu,” kataku.
“Lho kok buru-buru?” tanya Tante Melisa sambil keluar kamar.
“Ada kepeluan lain Tan,” jawab ku…
“Lain kali ke sini lagi yah,” kata Tante Gita sambil mengerlingkan matanya:..
“Ooooo iya Tante,” kataku sedikit kaget, tapi agak seneng juga…
Setelah kejadian itu aku jadi kangen ama Tante Melisa.. suatu hari aku lagi jalan sendirian di mall, aku gak nyangka kalo ketemu ama Tante Melisa..
“Allo Tante,” sapaku…
“Hi Andy,” jawabnya..
“Mau kemana Ndy.?”
“Hhhhmmm lagi pengen jalan aja Tante.”
“Kamu ada waktu.?”
“Kalo gak ada gak papa..”
“Emang mau ke mana Tan.?”
“Temenin Tante makan yuk..”
Waaaahhhhh… tawaran itu gak mungkin aku tolak jarang jarang ada yang traktir aku, maklum aku anak kostan heueuehueuh. Tanpa berpikir panjang aku langsung meng iya kan tawarannya.

Setelah kami makan Tante Melisa ngajak aku keliling sekitar Bandung.. Tanpa kita sadari kalo malam udah larut.. Waktu itu jam menunjukan pukul 22.30…Lalu aku ngajak Tante Melisa pulang, aku di anter ama Tante Melisa sampai depan rumah kostan aku
Tapi sebelum aku keluar dari mobil aku kaget campur seneng Tante Melisa menarik badan aku lalu menciumiku dengan ganas…Kami berpagutan lumayan lama. Lama-lama aku makin panas lalu aku ajak Tante Melisa masuk ke dalam kostan aku
Lalu kami masuk setelah di dalam Tante Melisa menubruk badan aku hingga kami berdua jatuh di atas kasur. Lalu kami beerciumana lagi. tiba-tiba tangan aku yang nakal mulai mengerayangi badan Tante Melisa yang sexy.

Setelah itu aku buka tank top Tante Melisa.. wooowwwww ternyata dia tidak memakai BH itu membuat aku gampang buat menikmati indahnya payudara Tante Melisa yang indah itu.. Tante Melisa mulai mengerang keenakan.
“Ooooooohhhh.. Andyyy.. remas terushhhh,” kata Tante Melisa mendesah.
“Mendengar itu aku makin menggila…”
“Aku gigit putting susu Tante Melisa…”
“Aaaccchhhhhh… enak sayang.. terussshhh…”
Lalu aku buka celana jeans Tante Melisa… sambil terus kupermain kan gundukan kembar itu dengan rakus setelah aku buka celana jean tante Melisa, aku buka CD Tante Melisa yang berwarna hitam itu.. ooooohhhhh indah betul pemandangan malam ini gumamku dalam hati… 

Lalu aku pun menyuruh Tante Melisa buat membuka pahanya lebar-lebar..
“Baik sayang. lakukan apa yang kau mau..”
Lalu aku benamkan muka aku ke selangkangan Tante Melisa.
“Aaaaacccchhhhhhhhhhhh.. geli sayang.jerit Tante Melisa, badannya bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri menahan nikmat… aaaaccchhhhhhh terus sayang.. oooohhhhhhhh”
“Aku jilat, gigit, jilat lagi hhhhmmmmmmm… memek Tante Melisa harum”
Lalu tangan Tante Melisa mencari-cari sesuatu di balik celana dalam ku
“Wwoooooowwwww,” jeritnya.
“Aku gak percaya punyaan kamu gede Ndy…”
“Tante suka?” tanyaku.
“Suka banget..”

Lalu kupermainkan lagi memeknya, kami bermain 69 Tante Melisa melumat kontolku dengan rakusnya, sampai tiba saatnya dia mulai merengek-rengek supaya kontolku dimasukkan ke dalam liang memeknya.
“Ndyyyy.. sekarang sayang aku gak kuaatttthhh.!!!”
“Sekarang Tante..?”
“Iya sayang cepaaattt.” Lalu aku menaiki badan Tante Melisa perlahan-lahan aku masukin kontol aku… oooooohhhhhh… sleeeepp perlahan-lahan kontolkupun kubenamkan.
Tante Melisa sedikit teriak “Aaaaaccccchhhhhhh Ndyyyyy”. Memek Tante Melisa masih sempit, hangat aahhh.. pokoknya enak banget…
“Masukin yang dalem Ndyy… oooohhhhhhh.!!!
“Goyangin Tante..” Slepppp… sleppppp… sleeppppp.. kontolku keluar masuk”. “Ooohhhh….
ooohhhhhhh.. ooohhhhhhhh……” kami berpacu untuk mencapai klimaks dan akhirnya kami pun keluar sama sama.

Setelah kami puas bercinta kamupun tertidur pulas dan bangun kesiangan untung waktu itu temen-temen sekostanku sedang mudik, jadi aku gak terlalu khawatir
“Kamu hebat tadi malam Ndy sampe aku kewalahan” lalu Tante Melisa pun pamitan untuk pulang lalu dia berkata “Lain kali kita main lagi yah aku masih penasaran ama kamu Ndy”….
“Kalo kamu mau apa-apa bilang aja ama Tante ya jangan sungkan-sungkan!!”..
“Baik Tante,” kataku… lalu Tante Melisa pun pulang dengan wajah berseri-seri… setelah kami melakukan percintaan itu kamipun melakukannya berulang kali dan hubungan kamipun masih berlanjut hingga kini,

Tapi hubungan yang tanpa ikatan, hanya hubungan antara orang yang haus akan sex.. dan semenjak itu akupun diajari berbagai jurus dalam permainan sex… mulai dari doggy style sampai berbagai jurus yang sangat nikmat.

Setelah aku berhubungan dengan Tante Melisa kebutuhan akan sehari-hari aku lebih dari cukup apapun yang aku minta dari Tante Melisa dia pasti memberikannya, soalnya dia bilang permainan ranjangku hebat sekali dan adikku ini lumayan besar, katanya.. dan aku bisa ngebikin Tante Melisa puas.

Selama kami berhubungan, Gita temanku itu dan sepupu Tante Melisa itu tidak pernah mengetahuinya, kalo dia tahu berabe deh.. heheheheheheheh

Bagaimana Dengan Cerita Nya? Menarik Bukan Karena Di Sini Kita Bisa Ikut Merasakan Rasa Nya Melalui Cerita Dewasa Nya Ini.Oleh Karena Ini Jangan Lupa Untuk Di Simak Cerita Hot Lainnya Di Bawah Ini :

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata 3Some Ibu Dan Anak

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata 3Some Ibu Dan Anak

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata


Cerita Dewasa ini adalah Pengalaman Sex Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata 3Some Ibu Dan Anak merupakan pengalaman sex yang sangat susah untuk di lupakan. Cerita sex kali ini berdasarkan pengalaman dari pengirim cerita yang tidak mau di sebutkan nama nya , untuk menghormati itu kami menggunakan nama palsu dalam Cerita 17+  kali ini.Untuk itu silahkan langsung di simak cerita nya :

Kisah seorang ibu haus seks yang bercinta secara lesbi dengan anak perempuannya dan juga kemudian dengan anak laki-lakinya secara bersamaan. Selengkapnya, berikut adalah kisah ngentot lengkapnya!

“Huhh.., bete banget dech” sungut Lini sambil mematikan TV.
Sekarang Lini sedang sendirian di rumah. Sudah seminggu ini, Papa Lini tugas keluar kota dan rencananya baru pulang minggu depan. Mama Lini sedang pergi arisan di rumah temannya. Bondan juga pergi menginap di rumah temannya. Pembantu mereka pulang kampung menjenguk keluarganya yang sakit. Ibu peri juga jarang menjenguk Lini. Bosan menonton TV, Lini lalu pergi ke kamarnya di lantai dua.

“Coba Bondan nggak pergi, kita bisa main kayak kemarin dulu” pikir Lini.
Memang sejak pengalaman oral seksnya dengan Bondan, Lini sering mengulangi perbuatannya dengan Bondan. Tentu saja diam-diam kalo Mama dan Papa Lini lagi nggak ada dirumah. Bahkan Ibu peri pun tidak Lini beri tau tentang aktivitasnya yang satu ini.prediksi bola

Lini berdiri di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Kemudian dia melepas pakaian, BH, dan celana dalamnya. Sekarang Lini telanjang bulat sambil memandang dirinya sendiri di cermin. Lini memandangi wajahnya yang cantik manis, kulitnya yang putih mulus, dadanya yang baru tumbuh dengan puting mencuat gara-gara Bondan sering gemas kalo mengulum puting itu, dan vaginanya yang terawat dengan bulu-bulu halus yang masih jarang. Cerita Sex 2016

“Uuhhh.., enak.”, desah Lini sambil tangannya yang kiri mengelus lembut dadanya sendiri.
Sesekali dipilinnya putingnya sambil mMore…embayangkan kalo Kak Rendi yang sedang melumat putingnya itu. Tangan kanannya juga tidak Lini biarkan menganggur tetapi sibuk mengusap lembut vaginanya terutama bagian agak menonjol yang bernama klitoris seperti yang sudah dipelajari Lini dalam pelajaran anatomi tubuh manusia di sekolah. Lini merasa nikmat sekali bila klitorisnya diusap-usap, apalagi kalo dihisap mulutnya Bondan. Mata Lini terpejam, kelihatannya dia asyik menikmati perbuatannya itu sampai Lini tidak menyadari kalo ada seseorang membuka pintu kamarnya.
“Lini! Apa yang kamu lakukan?!”

Lini kaget sekali. Dia segera menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke pintu kamarnya. Ternyata disana sudah berdiri Mama Lini dengan wajah yang kelihatannya sangat marah.
“Mmaa.. Ma”, kata Lini sambil ketakutan.
“Ehm ternyata kalo lagi sendirian, kamu sering melakukan perbuatan kurang ajar seperti ini ya?!”, cibir Mama Lini.
“Mm.. maafin Lini, Ma”, jawab Lini ketakutan sambil berusaha menutupi dada dan kemaluannya.

Mama Lini mendekat sambil memandang Lini yang masih telanjang.
“Ehm.. anak kurang ajar ini rupanya sudah tumbuh jadi gadis yang cantik sekali. Sekarang aku punya kesempatan mencoba oleh-oleh dari temenku dari Belanda sambil mempraktekan apa yang kulihat dari VCD kemarin.”, pikir Mama Lini dalam hati.
“Kamu akan Mama hukum. Sekarang tunggu disini dan jangan pakai bajumu. Kalo kamu tidak mau menurut sama Mama, akan Mama beritahukan perbuatan kamu ini ke Papa.”, kata Mama Lini sambil keluar kamar.
“Iya, Ma.”, jawab Lini pelan.

Lini takut sekali kalo Mama mengadukan dia ke Papa. Lini berpikir hukuman apa yang akan dijatuhkan Mama. Apa dia akan dipukul? Tapi Lini berpikir lebih baik dipukul daripada diadukan ke Papa.
Tak lama kemudian Mama Lini kembali dengan hanya memakai kimono sambil membawa sebuah kotak. Mama menyuruh Lini berdiri mendekat. Kemudian Mama melepas kimononya. Lini kaget, ternyata Mamanya tidak memakai apa-apa di balik kimononya. Diam-diam Lini kagum terhadap Mamanya yang jelas merawat tubuhnya dengan baik. Lini mengamati wajah Mamanya yang masih cantik, tubuhnya yang masih langsing dan bagus, dadanya juga indah, besar tapi tidak turun dan masih padat, dan vagina Mamanya ternyata bulunya dicukur habis.
“Sekarang kamu harus menurut sama Mama dan jangan ceritakan ini ke siapa pun. Kalo tidak Mama akan melaporkan kamu ke Papa”, perintah Mama.
“Iya, Ma.”, jawab Lini ketakutan.

Tiba-tiba Mama Lini mencium bibir Lini dengan penuh nafsu. Mama Lini penasaran ingin tahu rasanya bercinta sesama perempuan setelah dia melihat VCD porno milik temennya yang ada adegan lesbinya. Sekarang dia bisa mencobanya dengan anak tirinya ini.
Lini terkejut tetapi dia tidak berani melawan perbuatan Mamanya. Diam-diam Lini bersyukur bahwa hukumannya ternyata tidak dipukul seperti biasanya. Lini heran dengan perbuatan Mamanya tapi lama-lama Lini juga menikmatinya. Lidah Mamanya bergerak Linir dimulutnya, Lini pun meniru perbuatan Mamanya. Mulanya memang Lini agak kaku dan risih, tapi kemudian dia menikmatinya. Apalagi tangan Mamanya juga mulai meremas-remas pantat Lini sambil sesekali mampir mengusap-usap memek Lini, dan tangan satunya Linir beroperasi di dada Lini sambil memilin putingnya.

 Nafsu Lini mulai naik seperti kalo dia lagi oral dengan Bondan. Lini merasa kakinya mulai lemas oleh kenikmatan.
“Ma, Lini capek berdiri.”, keluh Lini.
“OK. Sekarang kita ke ranjang aja.”, jawab Mama sambil mendahului tidur di ranjang Lini.
“Kamu juga naik kesini dan cium susu Mama sambil diremas-remas.”

Lini menurut. Lini menciumi payudara Mamanya yang besar itu sambil tangannya meremas payudara yang satunya.
“Eehhm.. yeah. Terusin La, isep putingnya. ookh.. anak pintar.”, desah Mama Lini keenakan.
Lini senang mendengar Mamanya senang. Mama nggak pernah memuji Lini sebelumnya. Lagipula Lini suka melakukan perintah Mamanya yang satu ini. Lini gemas dengan payudara Mamanya, dia suka sekali kalo Mamanya mendesah keenakan ketika putingnya Lini isap keras-keras.
“Aakh.. bagus sayang. Memek Mama coba kamu usap pake tangan kamu. aakh.. yeah begitu. Jari kamu masukin ke lubang memek Mama, pakai tiga jari biar lebih enak. ookh kocok-kocok keluar masuk. aakh..”

Lini mengocok memek Mamanya, mula-mula pelan lalu bertambah cepat. Lini merasakan jarinya basah oleh cairan, memek Mamanya jadi agak becek oleh cairan kenikmatan yang membanjir.
“Eehm.. sekarang jilatin memek Mama.”, perintah Mama Lini.
Lini mencoba apa yang sering dilakukan Bondan pada memeknya kalo lagi oral. Lini menciumi memek Mamanya, lidahnya bergerak Linir sambil sesekali menusuk lubang memek itu. Tak lupa, Lini juga mengulum klitoris Mamanya dengan kuat karena Lini merasa paling enak kalo Bondan mengulum klitorisnya. Tubuh Mamanya kontan tersentak, dan pantatnya agak terangkat sebentar.
“Ookh.. eehm.. belajar dari mana kamu sayang?”, tanya Mama Lini.

Lini tak berani menjawab kalo Bondan yang mengajari. Lini meneruskan mengerjai memek Mamanya sambil sekarang jarinya ikut mengocok memek Mamanya dengan cepat.
“Aakkhh.. Mama nyampe sayang. aakkhh..”, jerit Mama sambil menjepitkan pahanya dan tangannya menjambak rambut Lini.

Mama Lini beristirahat sejenak sambil menikmati sisa-sisa orgasmenya yang pertama. Kemudian Mama Lini menyuruh Lini tidur telentang. Sekarang gantian Mama Lini yang beroperasi.
“Kamu cantik sekali La. Mama akan bikin kamu merasa keenakan.”, puji Mama.
Lini senang sekali. Mama mencium bibir Lini sambil tangannya meraba-raba tubuh Lini. Ciuman Mama turun ke leher. Lini menikmatinya, nafsunya mulai naik. Kemudian mulut Mama beroperasi di dada Lini yang baru tumbuh dan masih terlihat datar. Puting Lini dikulum kuat-kuat oleh Mama sambil tangannya mulai aktif di memek Lini.
“Eehmm.. Enak Ma esstt..”, desah Lini.

Puting Lini bertambah keras dan besar karena rangsangan dari Mama. Kemudian kaki Lini dibuka karena Mama Lini akan mengerjai memek anaknya itu. Mama Lini mulai menjilat memek anaknya.
“Sstt aakh.. terus Ma.”, erang Lini bertambah keras.
Lidah Mamanya terasa mengorek-ngorek Lining memeknya dengan Linir. Lini mendesah merasakan nikmat birahi yang melanda dirinya. Apalagi ketika Mamanya menyedot klitorisnya, badan Lini sampai melengkung ke atas menahan nikmat. Mama Lini pun menemukan keasyikan tersendiri menjilati memek anak tirinya itu. Dia terus menjilati memek anaknya. Semakin Lini mendesah dengan keras dan merasa nikmat, Mama Lini pun semakin bersemangat mempermainkan memek mungil yang masih perawan itu. Mama Lini pun menahan diri untuk tidak menggunakan jarinya, belum waktunya pikir Mama Lini.
“Aakkhh.. aah Ma, Lini.. eh.. Lini..aakh..”.

Lini merasakan ada sesuatu dalam dirinya yang mau jebol keluar dan dia tidak dapat menahannya lagi. Kakinya dirapatkan menjepit kepala Mamanya. Lini pun mengalami orgasmenya yang pertama. Cairan kenikmatan Lini yang membanjir keluar ditelan habis oleh Mamanya. Setelah itu badan Lini lemas dan dia terkulai di ranjangnya.
“Hukuman untukmu belum selesai Lini.”, kata Mamanya.

Lini melihat Mamanya berdiri dan menghampiri kotak yang ada di meja. Kelihatannya Mamanya mengambil sesuatu dari dalam kotak lalu memasangnya seperti sabuk melingkari pinggang dan pantatnya. Lini tidak bisa melihat benda itu dengan jelas karena Mamanya memunggunginya. Dan ketika Mamanya berbalik, Lini kaget sekali. Benda itu ternyata berbentuk seperti burungnya Bondan tetapi dari karet dan dua kali lebih besar dari punya Bondan. Penis karet dipasang Mamanya hingga seakan-akan Mamanya adalah laki-laki.
“Ma, kok Mama pake barang kayak gitu sih?”, tanya Lini heran.
“He.. he.. kamu pasti suka sama barang ini. Sekarang kamu kulum kontol ini pake mulut kamu.”, perintah Mama.

Lini menurut, lagipula Lini memang suka mengulum burungnya Bondan. Dan punya Mama kelihatannya lebih besar dan menarik sekali. Lini mempraktekan pengalamannya dengan burung Bondan pada mainan Mamanya. Tapi penis mainan Mama ternyata lebih besar, mulut Lini hampir tidak muat menampung besarnya benda itu. Walaupun dipaksa, penis mainan itu cuma bisa masuk separuhnya. Mama Lini memegangi kepala Lini sambil memaju mundurkan pinggulnya seperti memperkosa mulut Lini. Mama Lini menikmati perbuatannya itu sambil tertawa senang. 

Kemudian Mama Lini mengajak Lini memainkan posisi 69 dengan Mama Lini dibawah agar dapat menjilati memek anaknya lagi.
“Eehm.. eehhmm.. sst.. aakh Mama.. enak Ma ehhm.. eehm.”, desah Lini saat dia mengambil nafas, lalu dia meneruskan kulumannya.
Lini pun mulai terangsang kembali. Kemudian Mama Lini menyuruh Lini tidur terlentang. Lalu mengambil posisi misionaris untuk memerawani Lini dengan penis mainannya itu.
“Apa yang Mama lakukan?”, tanya Lini.
“Tenang saja sayang, kamu pasti senang.”, jawab Mama Lini sambil menggesek-gesekkan kepala penis mainan itu ke memek Lini.

Lini merasa nikmat saat memeknya digesek ujung mainan Mamanya. Apalagi Mamanya mulai melumat bibirnya lagi sambil tangannya memilin putingnya yang kini semakin keras.
“Aduuh.. sakiitt Maa.”, jerit Lini karena Mama mulai berusaha memasukkan penis itu ke memeknya.
“Cuma sebentar, nanti juga enak lagi.”, jawab Mama sambil memompa penis yang baru masuk kepalanya saja.
Lini mulai merasa enak bercampur sedikit perih. Sampai..
“AAKKH.. SAKIIT MAA..”, jerit Lini ketika Mamanya tiba-tiba menekan amblas hingga penis itu menjebol selaput daranya.

Mama Lini mendiamkan dulu gerakannya agar memek Lini terbiasa dengan penis besar itu. Dia pun mencium lagi bibir anaknya dan memainkan payudara anaknya agar Lini teralihkan rasa sakit akibat jebol keperawanannya. Ketika Lini sudah agak tenang, Mama Lini mulai memompa pelan-pelan.
“Aakh.. ii.. iiya Ma. Terus Ma.”, desah Lini ketika dia mulai merasakan nikmatnya seks walaupun masih ada sedikit rasa perih. Mama Lini pun merasa keasyikan tersendiri ketika dia berperan sebagai laki-laki dengan penis mainannya itu.
“Uukkhh.. enak Ma. Terusin Ma. Lini sayang Mama.”, desis Lini.

Lini memang merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan melebihi permainannya dengan Bondan. Mama Lini semakin bersemangat mendengar desahan Lini dan diapun makin mempercepat pompaannya di memek anaknya.
“He..he.. kamu suka khan dientot sama kontol Mama ini?”, kata Mama.
“Iiya Ma. Lini suka.”, jawab Lini.
“Suka ngapain? Ayo bilang. Kamu suka dientot sama kontol Mama ini. Ayo.”, perintah Mama Lini.
“Aakkh.. Lini suka.. aakh Lini suka dientot sama kontol Mama yang gede.”, jawab Lini yang mulai terhanyut dalam permainan Mamanya.

Mama Lini senang mendengar Lini ngomong jorok begitu, dan dia pun makin gencar melakukan tusukannya sambil diselingi goyangan agar Lini bertambah nikmat.
“Uukkh.. terus Ma. Enaakk.. aakkhh.”, desah Lini sambil menggoyang pinggulnya mengikuti irama pompaan Mamanya.
“Kamu memang Perek kecil yang suka dientot sama kontol besar.”, kata Mama Lini yang semakin terangsang dengan ngomong yang jorok-jorok.
“Iya, Ma. Lini ini perek yang senang dientot. aakkhh Entot terus Ma.”, jawab Lini meniru kata-kata Mamanya yang jorok.

Mama Lini senang mendengar desahan dan ucapan jorok Lini. Dia menikmati melihat wajah Lini yang terangsang. Gadis cantik yang baru tumbuh dewasa itu terengah-engah keenakan. Kadang dia menggigit bibirnya menahan nikmat. Ekspresinya yang sedang terangsang membuat Lini semakin kelihatan cantik.
“Ma, Lini.. aakh.. Lini mau..”, desis Lini.
Melihat anaknya akan orgasme, Mama Lini mengangkat pantat Lini dan memompa Lini semakin cepat.
“Aakkhh.. Lini nyampe, Ma.”, erang Lini saat mencapai orgasmenya yang kedua.

Lini menjepitkan kakinya ketat ke pinggul Mamanya. Tangannya menarik dan memilin putingnya sendiri. Matanya terlihat putihnya saja dan bibir bawahnya digigit sendiri menahan sensasi orgasme yang dia rasakan. Mama Lini akan membiarkan Lini istirahat sebentar ketika..
“Ma, Bondan boleh ikutan nggak?”, tanya suara dari arah pintu kamar.
Mama Lini kaget. Saat dia menoleh ke arah pintu, dia melihat anaknya si Bondan sudah telanjang bulat sambil memegangi burungnya yang sudah berdiri.

Tetapi Mama Lini malah tersenyum dan berkata, “Boleh, sayang. Ayo kesini”.
Bondan kegirangan, dan segera naik ke ranjang. Dia berdiri di atas lututnya dan mengangkangi tubuh Lini. Bondan lalu menyuruh Lini mengkaraoke burungnya. Lini menurut walaupun sudah lemas.
“Aakh enak La. Helen aja kalah pinter kalo urusan kayak begini.”, kata Bondan.
Sementara itu, Mama Lini sedang membersihkan memek Lini dengan kain lap. Terlihat ada noda merah di cairan Lini, tanda kalo dia sudah tidak perawan lagi. Kemudian dia menjilati memek Lini untuk membangkitkan birahi anak tirinya lagi.
“Ma, minggir dulu, Ma. Bondan pengen ngentot nih.”, pinta Bondan dengan nafsu.
“Tunggu, sayang. Kamu tiduran saja di situ. Mama mau ambil sesuatu.”, perintah Mama.

Bondan menurut, dia tiduran setengah bersandar pada kepala ranjang dengan diganjal bantal pada punggungnya. Mama Lini pergi ke kotak di meja, melepas penis mainan dan mengambil bungkusan kecil. Setelah Mamanya mendekat, Bondan baru tahu kalo yang diambil Mamanya adalah kondom. Lalu Mama memasang kondom itu pada burung Bondan.
“Ayo, Lini. Naik ke atas Bondan.”, perintah Mama.
“Tapi Lini masih capek, Ma.”, jawab Lini lemah.
“Jangan membantah. Bondan sudah pengen ngentot kamu. Sini Mama bantu.”, jawab Mama sambil membantu Lini.

Mama membimbing Lini duduk diatas Bondan dengan memeknya tepat di atas burung Bondan. Mama menuntun penis Bondan memasuki memek Lini yang walau sudah tak perawan tapi masih rapat.
“Aakkhh.. memek kamu enak banget, La. Burungku kayak dijepit.”, desah Bondan.
Bondan senang posisi ini karena dia bisa melihat wajah Lini yang cantik dan tangannya pun bisa mengerjai puting Lini. Sementara itu, Mama Lini yang memeluk Lini dari belakang membantu Lini memompa penis Bondan sambil menciumi leher Lini dari belakang.
Pelan-pelan, birahi Lini naik lagi karena kocokan penis Bondan di memeknya, putingnya yang dipilin Bondan dengan gemas, juga ciuman Mama di lehernya. Lini mulai mendesah pelan mengiringi desahan Bondan yang keenakan.

Setelah Lini mulai pulih, Mama meninggalkan kedua anaknya yang asyik ngentot. Mama mengambil penis mainan dari dalam kotak dan memakainya. Tetapi yang ini lebih kecil dari yang tadi, kira-kira besarnya sama dengan burung Bondan. Mama kembali lagi ke ranjang sambil membawa botol kecil dari plastik. Kemudian Mama menyeret tubuh Bondan agak ke bawah hingga Bondan tidur terlentang. Lalu Mama mendorong tubuh Lini ke depan hingga Lini telungkup merapat dengan Bondan, dan memek Lini masih mencengkeram burung Bondan. Bondan menyambut Lini dengan melumat bibir Lini. Kemudian Mama menjilati anus Lini dan menusukkan lidahnya ke lubang anus itu.
“Uukh.. geli, Ma. Enak.”, desah Lini.

Mama tersenyum, dia mau mencoba ide yang muncul saat Bondan minta bergabung tadi. Mama mengambil botol kecil tadi, lalu menyemprotkan isinya ke lubang anus Lini. Kemudian diratakan dengan jarinya yang berusaha membuka sedikit anus Lini hingga cairan itu bisa masuk ke dalam Lining belakang Lini.
“Apa itu Ma? Rasanya dingin.”, tanya Lini.
“Kamu tenang aja. Mama jamin ini lebih enak dari yang tadi.”, bujuk Mama.
Lalu Mama memposisikan penis mainannya yang sudah dipasang kondom dan diolesi cairan pelumas dari botol tadi ke Lining anus Lini. Mama mulai berusaha memasukkan penis mainannya ke anus Lini.
“Aduh Ma. Mama ngapain Ma? Sakit Ma.”, rintih Lini.
“Pertamanya aja kok yang agak sakit. Ntar juga enak.”, bujuk Mama.

Mama terus memaksa mainannya masuk, dan nggak peduli Lini yang merintih kesakitan. Penis mainan itu dimasukkan pelan-pelan sampai masuk semuanya. Lalu Mama membiarkan dulu sampai Lini agak tenang. Bondan juga membantu Lini melupakan rasa sakitnya dengan melumat bibir Lini lagi.

Beberapa saat kemudian Mama mulai memompa penis mainannya pelan-pelan. Mula-mula Lini merasa anusnya perih sekali, tubuhnya terasa penuh dengan dua penis di kedua lubangnya. Tapi setelah lancar, Lini mulai merasakan sensasi kenikmatan yang melebihi persetubuhannya dengan satu penis. Apalagi Mama mulai meningkatkan irama kocokannya. Bondan yang ada dibawah pun merasa nikmat sekali. Memek Lini terasa lebih rapat dan menggigit karena penis Mama yang ada di anus Lini. Walaupun Bondan tidak bergerak tapi kocokan Mama diatas membuat pergerakan otot memek Lini seperti memijat-mijat burungnya.

“Aakkhh.. iya, Ma. Sekarang rasanya jadi enak lagi. aakh.. sst.. terus.. entotin yang cepet, Ma.”, erang Lini yang mulai merasakan sensasi nikmat threesome.
“Uuhf.. memek kamu rasanya tambah sempit. Kamu suka kontolku, La?”, rayu Bondan. Bondan mengimbangi gerakan Lini dan Mamanya dengan menggoyang pinggulnya memutar.
“Kontol kamu enak juga kok Mbom. aakh..eehhmm..”, Lini mendesis keenakan.
Ibu dan anak-anaknya itu terus memacu birahi mereka. Tubuh mereka sudah mengeluarkan peluh.
“Hei Perek, kamu suka dientot dua kontol begini? 

Ayo, jawab.”, Mama mulai ngomong jorok lagi sambi mempercepat kocokannya. Rambut Lini yang panjang dijadikan pegangan untuk lebih cepat mengocok.
“Suka, Ma. Lini paling suka ngentot. aakkhh entot Lini terus Ma. Tiap hari.”, sahut Lini.
Lini merasa memek dan anusnya penuh. Gerakan dua penis di memek dan anusnya memberikan sensasi yang luar biasa. Putingnya yang menempel di dada Bondan, tergesek-gesek dan membuat putingnya makin mengeras karena nikmat. Tiba-tiba Lini merasa seperti gunung mau meletus. 

Kenikmatan-kenikmatan yang dia terima membuat kelenjar didalam tubuhnya mengumpul dan mau muntah keluar melalui memeknya. Kenikmatan ini lebih dari orgasme sebelumnya.
“Aakhh.. sstt.. aakkhh.. Lini mau nyampe.”, erang Lini.
Lini pun menggapai orgasmenya yang ketiga dan keempat sekaligus. Lini baru merasakan indahnya multi orgasme. Mama melepaskan penis mainannya dari anus Lini. Bondan yang belum keluar segera membalik tubuh Lini dan bersiap-siap menggenjot Lini lagi.
“Berhenti dulu, mBom. Lini capek bener nih.”, pinta Lini memelas.
“Sini. Pake memek Mama aja, mbom.”, sahut Mama yang sudah melepas peralatannya.

Mama mengambil posisi menungging di atas tubuh Lini. Bondan pun langsung mengocok memek Mamanya dari belakang dengan cepat. Lini pun tidak ketinggalan mengajak Mama berciuman sambil tangannya meremas-remas dada Mamanya.
“Uuhhff.. Bagus, anak-anak. KaLinin pintar sekali.”, desah Mama keenakan.
Bondan terus mengocok memek Mamanya yang masih terasa menggigit walau sudah punya anak. Apalagi goyangan Mamanya, top. Tak lama, Bondan mulai merasa kalo mau keluar.
“Ma.. Bondan mau keluar, Ma.”
“Tunggu Mama. Mama juga mau nyampe. aakkh..”, erang Mama.

Kemudian Ibu dan anak itu orgasme bersamaan. Setelah itu mereka bertiga istirahat dan tertidur di ranjang bersama-sama. Sejak saat itu, mereka sering bermain seks bila Papa tidak ada dirumah. Kadang berdua, kadang bertiga. Lini juga senang sekali karena sikap Mama terhadapnya berubah menjadi baik, tidak lagi seperti dulu. 

Bagaimana Dengan Cerita Nya? Menarik Bukan Karena Di Sini Kita Bisa Ikut Merasakan Rasa Nya Melalui Cerita Dewasa Nya Ini.Oleh Karena Ini Jangan Lupa Untuk Di Simak Cerita Hot Lainnya Di Bawah Ini :

Jumat, 15 Januari 2016

Kisah Nyata Cerita Dewasa Bercinta Dengan Duo Janda

Kisah Nyata Cerita Dewasa Bercinta Dengan Duo Janda

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata


Cerita Dewasa ini adalah Pengalaman Sex Kisah Nyata Cerita Dewasa Bercinta Dengan Duo Janda merupakan pengalaman sex yang sangat susah untuk di lupakan. Cerita sex kali ini berdasarkan pengalaman dari pengirim cerita yang tidak mau di sebutkan nama nya , untuk menghormati itu kami menggunakan nama palsu dalam Cerita 17+  kali ini.Untuk itu silahkan langsung di simak cerita nya :

Namaku Jhoni, Umurku 21 tahun, Aku baru saja berpindah dari kota besar ke desa yang amat asing. Entah kenapa didesa ini banyak sekali janda, juga banyak janda muda. Beritanya karena suatu hari saat para pria sedang bergotong royong menggali gua yang katanya berisikan batu emerald, namun nahasnya banyak dari mereka yang tidak selamat. Aku memilih untuk mencari batu akik lainnya disekitar desa itu, tentu sambil mencari kesempatan menikmati para janda itu.

Aku tinggal dikontrakan yang cukup dekat dengan rumah pak RT, jadi kami sering bertemu, dan tentu saja aku tau janda janda mana yang katanya menarik.
Saat itu setelah pulang dari mencari batu akik didekat sungai, aku bertemu seorang waRatna yang sedang membawa beberapa barang, sambil menggendong seorang bayi.
“Mbak, sini saya bantuin”,
“wah, makasih mas, maaf ya, jadi ngerepotin” Lalu aku meraih barang bawaanya.
Saat aku melihat kedepan, ternyata janda ini masih muda! Wajahnya masih cantik, dan tubuhnya cukup mempesona. Cerita Sex 2016

Aku yang ada disebelahnya sambil membawa barang bawaan ini terus mencuri pandang kearah belahan dada perempuan itu, tampak buah dadanya besar dan montok sekali, bajunya yang klasik itu menambah pesona benda favoritku itu.
“mm…mbak namanya siapa?”,
“Saya JuRatna mas, tapi biasa dipanggil Ratna”,
“ooh, kenalin saya Jhoni”,
“mas orang baru disini?”,
“iya, cari batu akik, mbak kok sendiri aja?”,
“iya, suami saya udah gak ada”. Beberapa menit kami berjalan sambil berbincang bincang, tiba tiba anaknya itu menangis, Ratna lalu mencoba menenangkannya, entah kenapa ia tiba tiba mengeluarkan buah dada kanannya, aku sempat terkejut.

Lalu tampak lah buah dada besar dengan puting coklat itu, dan si bayi segera menyusu ke ibunya, aku hanya bisa geleng geleng.
“Mbak, kok menyusui disini?”,
“udah minta nih anakku, udah biasa orang sini mah” memang didesa ini tampak tidak begitu memperhatikan bagaimana orang orang memakai pakaian ataupun menutup aurat, tentu ini juga bagus bagiku.
Beberapa menit kemudian, kami tiba dirumah Ratna,
“masuk dulu mas”,
“iya mbak” Lalu aku masuk mengikuti Ratna kedalam, ia memang masih menyusui anaknya, namun tentu aku juga mau.
“Mbak Ratna, udah sampai? Maaf tadi Jully gak bisa ikut” Aku terkejut lagi, kini muncul seorang perempuan lain,
“Iya Jully, gapapa, untung ada mas Jhoni ini yang bantu”,
“wah, makasih mas, kenalin saya Jully, adiknya mbak yuRatna”. Aku bersalaman dengan perempuan itu, umurnya mungkin hanya berbeda sedikit dengan kakaknya, karena ia juga tampak secantik YuRatna, tentu dengan buah dada yang besar pula.

“Jully, tolong kamu jagain anakku ya, saya mau kekamar mandi, sekalian mandi”,
“oooh, iya mbak” Lalu Ratna meninggalkan ku bersama Jully yang menggendong bayi itu.
“Mbak, berdua aja sama Ratna?”,
“iya mas, orang tua kami udah meninggal, suami kami juga kena bencana, kami hidup berdua sekarang”, Bukannya prihatin, Kontolku malah ngaceng tiba tiba.
“oooh, kasihan ya kalian berdua..” Bayi itu menangis lagi mencari ibunya, namun kali ini Si Jully juga mengeluarkan buah dada kanannya! Lalu bayi itu dibimbing untuk mengenyot puting coklat Jully, dan tampak bayi itu sibuk menyusu lagi.
“Loh, mbak Jully juga lagi menyusu?”,
“iya mas, karena udah sering gantian nyusuin anak ini, jadi udah biasa”. Aku semakin bingung, mana hari masih siang, panas, dan didepanku ada minuman segar, susu asli janda janda muda.

“Aduh, saya haus nih mbak”,
“waduh, mbak Ratna lagi di kamar mandi, saya juga sibuk…”,
“Kalau gitu…saya…minum susunya mbak Jully aja…”,
“Nah itu masnya pinter, sini mas” Buset lugu banget, lalu kudekati Jully, pelan pelan buah dada kiri Jully sudah dikeluarkan dari sarangnya,
“Mas pegangin sendiri ya, Jully lagi nenangin anak ini” ,
”iya…tenang aja…” Lalu aku pegang buah dada Jully, bwoh kenyal luar biasa, aku tahan dikedua tanganku, lalu puting kiri Jully segera ku masukkan kemulut ku, tanpa ragu ku kenyot puting mempesona itu, lalu air susu Jully segera membasahi mulutku, oooh segar nya…
“Slruuup sluuurp slruuuup…mmm…aaah…seger mbak…slruuup” Tanpa malu kesedot dan kunikmati air susu dari buah dada Sintal itu.

“Mas, auh, pelan aja, haus banget yach?”,
“Slruuup slruuup…mmm…srluuup…” Lidahku berputar putar diputing indah itu, juga terus menyedot keluar susu kedalam mulutku, tanganku juga mengelus elus benda bundar besar kenyal itu. Tampak Jully jadi terangsang. “mmmf…mas….sedotanmu…si kecil ini kalah hebat…uuuhf”,
“slruuup…mmm…iya dong, saya memang ahlinya…srluuup…slruup” Air ASI Jully tak habis ku sedot terus.
Tampak bayi itu sudah tertidur lagi,
“Mas…mmf… bentar… aku mau nidurin anak ini… udah ya nyusunya..”,
“iya deh, kamu jaga dulu dia ya…” Lalu meski tampak terangsang, Jully membawa bayi itu kekamar, sepertinya ia sedang menjaganya.

Beberapa menit kemudian, ada suara dari kamar mandi,
“Jully…tolong ambilin sabun dong, yang disini udah abis” Tak perlu lama aku berlari mendekati kamar mandi, lalu melihat ada sabun diluar.
“Mbak, Jully nya lagi tidur sama si bayi, ini sabunnya…”,
“ooh, iya mas, bawa sini dong, tolong…” Lalu aku masuk kedalam kamar mandi tak terkunci itu, kaget setengah mati aku, melihat tubuh montok Ratna tanpa pakaian, Lalu aku memberikan sabun itu, tentu tetap bertampang cool.
“ini mbak, kok kayaknya kesulitan mbak?”,
“Ini…air susuku keluar sendiri mas, soalnya udah penuh, bingung deh mandinya..” Rejeki datang lagi, segera ku dekati Ratna.
“Aduh, biar Jhoni bantuin mbak, dari pada mubazir saya minum aja susunya..”,
“iya deh… sini mas kedepan”, Gembira luar biasa aku,
“tapi saya takut basah mbak”,
“buka pakaian mas sekalian, itu ada handuk” Lalu aku secepat kilat membuka semua pakaianku, lalu memakaikan handuk dipingganku untuk menutup penisku yang tegang.

Segera ku menuju kedepan Ratna, dan tampaklah Buah dada Ratna yang besar itu diputing coklatnya terlihat cairan putih kesukaanku,
“biar aman, Jhoni sedot dua duanya ya mbak”,
“iya mas, saya mau sabunan…” Segera kedua buah dada itu kuremas, Ratna tampak cukup kaget,
“mas, gak pernah nyusu ya? Itu yang diputingku yang disedot mas…”,
“oooh, iya iya…” Lalu kedua buah papaya Ratna itu kupegang, kedua puting Ratna kutabrakan, lalu kumasukkan kedalam mulutku bersamaan, Ratna yang sibuk menyabuni dirinya tampak mulai terangsang.

Air susu Ratna rasanya lebih enak, Kedua putingnya yang ada dimulutku mengucurkan air susu dengan derasnya, karena buah dadanya kugencet dan kuremas denga kuat.
“ooooh…mas….mmmmf….pelan aja….uuuh” Ratna mulai asyik menyabuni vaginanya.
Aku terus saja menyedot air susu dari kedua puting coklat Ratna, kepala ku maju mundur, menarik narik puting itu, tentu dengan bantuan tanganku yang meremas buah dada montok dan kenyal itu.
“slruuup…slruuup…slruuup…mmm….mantep mbak…slruuup”. Tampak Ratna sudah mendesah, dari vaginanya keluar cairan lengket.
“uuuh…udah mas….aku mau berdiri…”,
“Ya saya sedot sambil berdiri mbak… slruuup” Ratna mencoba berdiri, ia menyabuni paha dan bokong sexy nya, aku makin terangsang saja, Karena Penisku sudah tegak dan berdenyut denyut, handuk yang menutupinya jadi jatuh.
“Mas….kontolmu udah berdiri…mmmf”,
“Sluuurp…slruuup…mmmf…aaah…sabunin dong mbak, sekalian aku mandi bareng mbak Ratna yach”,
“iya mas, mmmf….gede banget mas….uuuh” Penisku kini dikocok tangan Ratna yang sudah dibasahi sabun itu, tentu kocokannya jadi semakin nikmat, dan juga luar biasa nikmat.

Beberapa menit itu Ratna terus mengocok penisku, sementara buah dadanya kini bergantian kuremas dan ku sedot air susu keluar dari puting coklatnya.
“Uuuh…mas…aku pegel berdiri…mmmf” Ratna yang sudah lemas itu lalu memilih duduk, aku memilih menghentikan aksi minum besarku.
“mbak, saya bantu mandiin ya, mbak siramin aja tubuh kita berdua, saya yang ngelus ngelus ya…”,
“iya mas…. Uuuh” Lalu Ratna yang duduk itu membasahi tubuhnya yang sudah basah oleh sabun, aku memilih berada dibelakangnya.

Air membasahi tubuh kami berdua, aku juga mulai mengelus sekujur tubuh montok janda muda itu, Ku elus tangannya, perutnya, pahanya, dan segera menuju Memeknya. Tangan Kiriku meremas buah dadanya Ratna, tangan kananku asyik mengobok obok Vagina Janda cantik itu, Air yang mengalir membuat suasana jadi semakin menakjubkan.
“oooh…mas…mmmmf….uuuuh….enak mas…gak pernah aku mandi seenak ini…ooooh” Kudiam saja, lalu kucium leher dan ketiaknya, tanganku masih terus beraksi juga.
Beberapa menit kemudian, Ratna tampak sudah menggelinjang, segera angkat pinggulnya, kini ia merunduk. “mas, kamu mau ap…aaaah!” Penisku sudah melesat masuk kevagina Ratna tanpa perlu disuruh, terasa sangat nikmat, meski sudah tidak sempit.
“ooooh, nikmat mbak…uuuh” Segera penisku bergerak maju mundur dengan cepat, penisku menguasai seisi Memek nikmat Ratna, bokongnya jadi bergoyang goyang.

Tanganku lalu meraih bokong itu, lalu kuremas, dan kumasukan jariku kedalam lubang anusnya.
“aaaah…mas….uuuf…..mmmf….sssh…ooooh” Plop plop plop plop, suara desahan Ratna diiringi suara tabrakan penisku.
Beberapa menit itu kuterus saja menabrak memek Ratna dengan penis besarku, Sungguh nikmat dan luar biasa rasanya.
“Mbak, aku mau muncrat, oooh” Kutarik penisku, lalu kubalikkan tubuh montok Ratna, dan kupasang kontol besarku dimulutnya.
Crooot crooot croooot, Mulut Ratna penuh dengan spermaku. Janda itu lalu batuk batuk dan memuntahkan cairan sperma itu.
“ uhuk uhuk…mas..banyak banget pejuhnya…”,
“maklum, udah lama gak keluar, hehe”. Lalu Ratna memilih membersihkan dirinya bersamaku.
Setelah itu Ratna pergi duluan keluar dari kamar mandi, aku sedang sibuk menenangkan diri, juga memakai handuk.

Beberapa menit kemudian saat aku kembali keruang depan, tampak tak ada orang, lalu aku menuju kamar dirumah itu. Bukan main kaget, Ratna sedang asyik menindih tubuh Adiknya itu, sambil menciumnya.
“mmm…cup…mmmm…dek…uummm..cup…” Lalu Mereka berdua duduk, Ratna membuka pakaian Jully, aku hanya melongo didepan pintu, tampak Jully yang sudah bugil itu lebih putih dan mulus dari pada kakaknya.
“mbak… buah dadamu… sini…oooh” Jully meraih kedua buah dada kakaknya itu, lalu diremas dan diangkat keatas, “oooh…sini punyamu dek…uuuh” Gantian Ratna meraih Buah dada adiknya.
Sekarang kedua janda muda itu sedang meremas buah dada lawan tandingnya. Kembali air susu keluar dari puting mereka, tampak puting puting mempesona itu dipencet dan diremas remas, air susu mengalir keluar membasahi buah dada mereka.
“oooh….susumu mbak…”,
“uuuh…punyamu…mantep juga dek….mmmf” Aku geleng geleng sambil melongo, Penisku sudah berdiri lagi menjatuhkan Handuk itu lagi.
“Ooh, mas Jhoni, sini mas, mau ikut?” Godaan dari janda janda itu membuatku bersemangat, Tampak Bayi yang ditaruh diranjang kecil disebelah kasur itu sudah tenang, kini biar aku yang melahap kedua perempuan itu.

Ratna menarikku, dan merobohkan tubuhku kekasur, tinggal penisku yang besar itu masih berdiri.
“mas…kontolmu yang besar itu.. Kita goyang boleh? hehe…” Ratna dan Jully mendekat, lalu menempelkan buah dada mereka kepenisku.
Buah dada itu bertabrakan, dan ditengah tengahnya ada penis besarku yang tampak ingin meletus. Lalu mereka meremas dan menggencet buah dada mereka. Penisku kini sedang dilumat benda benda kenyal yang dibasahi air susu.
“mas….enak gak? Mmmf”,
“ooooh, mantep deh, toket kalian luar biasa kenyal dan montok…oooh” Mereka terus menggoyang dan meremas buah dada kenyal mereka, membuat penisku semakin meronta karena kenikmatan luar biasa.

Ratna dan Jully lalu Memegang buah dadanya, dan mendorong kuat kepenisku, tabrakan luar biasa itu membuat Penisku segera ingin meletus. Air susu yang muncrat dari puting puting keras mereka itu membasahi penisku,
“Ooooh, luar biasa…mmmf… nikmat sekali… kalian hebat…” Mendengar pujianku, kedua janda itu mendekatkan mulutnya kepenisku, segera Ratna dan Jully menjilati kepala penisku yang basah bercampur air air persetubuhan. “mmm…aaah…slruup..mmm…Kontolmu yang terbaik mas…”,
“mmm…slruupp…cup…aaah….Sedap deh ..uummm…cup…” Kedua janda itu semakin menggila menganiaya penisku yang terus meminta ampun karena keenakan.
“Aduh, aku udah gak kuat, oooh” Kedua janda itu membuka mulutnya diatas penisku, dan Crooot crooot crooot, Air maniku muncrat kearah mulut mulut nakal mereka.

Kini pejuhku ditelan oleh kedua janda itu.
“oooh… nikmatnya, mmmf” Aku masih kelelahan, tapi Jully sudah nakal lagi, penisku yang masih lemas, dimasukkan kevaginanya, ia yang sekarang berada diatasku itu bergerak naik turun, membuat penisku yang ada didalam vaginanya menjadi tegak kembali.
“haduuh, gila, tiga kali penisku tegak lagi…”,
“ooooh…. Kontolmu mas….super sekali…oooh…Jully suka banget…mmmf”.
Ratna tak mau kalah, ia kemudian mengambil posisi diwajahku, vaginanya yang basah itu lalu ditempelkan kewajahku,
“hehe, mas, jilatin yaach”,
“oooh, iya Ratna, oooh…ummm…” Kucupang denga cepat bibir vaginanya, lalu lidahku masuk kedalam vagina Ratna.

Dua janda itu sekarang sedang asyik bersetubuh denganku, Jully terus melompat lompat menikmati penisku divaginanya, Ratna mendesah sambil meremas buah dadanya sendiri karena memeknya yang kujilati.
Beberapa menit kemudian, Ratna memegang kedua buah dada Adiknya, segera Air susu Jully itu disedot keluar dari buah dada itu.
“Slruuup…dek…mmm…slruuup…hajar terus kontol itu..mmm”,
“oooh…mmmf…sssh…iya mbak…oooh…”. Orang kota bilang posisi kami ini adalah posisi Threesome, yang tak heran memang sangat menggairahkan dan nikmat luar biasa.

Beberapa menit itu kami terus beraksi menikmati sensasi seks bertiga itu, entah kenapa, nikmatnya sungguh tak ter elakkan.
“mmm….sluuurp…Jully… aku mau…”,
“keluarin didalem mas..uuuhf”,
“Iya mas, Jully udah pengen tuh…slruuup”, segera saja, Cprooot crpooot, Air Maniku menyembur kedalam Vagina Jully,

Ratna juga menyemburkan Cairan dari memeknya kewajahku, baunya sungguh mempesona. Kami bertiga yang sudah basah karena cairan cairan nikmat ini, memilih berisitirahat.
“Aduuh, kalian suka banget deh sama seks kayaknya..”,
“Ratna udah lama gak nikmatin kontol mas..”,
“Jully juga, masak tiap hari minum susu kita sendiri, sekali kali mau yang dari laki laki, hehe”,
“hahaha, memang kalian luar biasa”. Aku yang ada ditengah kedua Janda itu tersenyum bahagia, dua janda itu memelukku dengan nyaman.
Entah kenapa, penisku masih berdiri lagi.
“Aduuh, mas Jhoni masih mau lagi?”,
“Gak tau tuh, Ratna sama Jully masih mau lagi gak?”,
“Ayo mas, dikamar mandi aja, yuuk” Lalu Kembali kami beraksi dikamar mandi rumah itu, Entah Kenapa Sampai malam pun Ratna dan Jully terus menikmati penis besarku, juga cairan Spermaku.
Sungguh pilihan yang tepat untuk tinggal didesa ini, aku bisa menikmati dua janda sekaligus, tubuh montok dan mulus mereka, juga air susu segar yang kini jadi minuman favoritku.

Bagaimana Dengan Cerita Nya? Menarik Bukan Karena Di Sini Kita Bisa Ikut Merasakan Rasa Nya Melalui Cerita Dewasa Nya Ini.Oleh Karena Ini Jangan Lupa Untuk Di Simak Cerita Hot Lainnya Di Bawah Ini :

Cerita Dewasa Kisah Nyata Main Sex Dengan Istri Tetangga

Cerita Dewasa Kisah Nyata Main Sex Dengan Istri Tetangga

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata


Cerita Dewasa ini adalah Pengalaman Sex Cerita Dewasa Kisah Nyata Main Sex Dengan Istri Tetangga merupakan pengalaman sex yang sangat susah untuk di lupakan. Cerita sex kali ini berdasarkan pengalaman dari pengirim cerita yang tidak mau di sebutkan nama nya , untuk menghormati itu kami menggunakan nama palsu dalam Cerita 17+  kali ini.Untuk itu silahkan langsung di simak cerita nya :

Sudah bertahun-tahun kegiatan ronda malam di lingkungan tempat tinggalku berjalan dengan baik. Setiap malam ada satu grup terdiri dari tiga orang. Sebagai anak belia yang sudah bekerja aku dapat giliran ronda pada malam minggu.

Pada suatu malam minggu aku giliran ronda. Tetapi sampai pukul 23.00 dua orang temanku tidak muncul di pos perondaan. Aku tidak peduli mau datang apa tidak, karena aku maklum tugas ronda adalah sukarela, sehingga tidak baik untuk dipaksa-paksa. Biarlah aku ronda sendiri tidak ada masalah.

Karena memang belum mengantuk, aku jalan-jalan mengontrol kampung. Biasanya kami mengelilingi rumah-rumah penduduk. Pada waktu sampai di samping rumah Pak Tono, aku melihat kaca nako yang belum tertutup. Aku mendekati untuk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada orang jahat yang membukanya. Dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi. Cerita Sex 2016

Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja. Mendadak aku mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Tono dan istrinya. Aku lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur lebih jelas terdengar. “Ssshh… hhemm… uughh… ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas itu suara Bu Tono yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak Tono sedang mengocok liang vagina Bu Tono.
Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. Aku betul-betul iri membayangkan Pak Tono menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi Bu Tono yang cantik dan bahenol itu.

“Oohh, sshh buuu, aku mau keluar, sshh…. ssshh..” terdengar suara Pak Tono tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Tono sudah ejakulasi dan pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tono. Selesailah sudah persetubuhan itu, aku pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang dari Tono.

Sejak malam itu, aku jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang tidak rapat benar. Aku jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari. Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk ke kamar tidurnya. Aku mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka. Apabila aman, aku akan mendekati kamar mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur. Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih Bu Tono yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Tono), dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan. Dan aku pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Tono dan khususnya suara Bu Tono yang keenakan disetubuhi suaminya.

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila aku bertemu Bu Tono juga biasa-biasa saja, namun tidak dapat dipungkiri, aku jadi jatuh cinta sama istri Pak Tono itu. Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah dadanya yang besar dan bagus. Aku menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena Bu Tono istri orang. Kalau aku berani menggoda Bu Tono pasti jadi masalah besar di kampungku. Bisa-bisa aku dipukuli atau diusir dari kampungku. Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata aku akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh Bu Tono.

Pada suatu hari aku mendengar Pak Tono opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai tetangga dan masih bujangan aku banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting aku mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan Bu Tono. Pada suatu sore, aku menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Tono. Sore itu, mereka sepakat Bu Tono akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena Bu Tono sudah beberapa hari tidak pulang. Aku menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.
Sehabis mahgrib aku bersama Bu Tono pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Tono. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang. Aku mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan kesempatan bagus sekali untuk mendekatai Bu Tono.

“Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong Bu Tono sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa”, kataku hati-hati.
“Ya, itulah Dik Didi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan”, jawab Bu Tono.
“Tapi anu tho bu… anuu.. bikinnya khan jalan terus.” godaku.
“Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiiya Dik Didi” jawab Bu Tono agak kikuk. Sebenarnya kan aku tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan Bu Tono yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. Aku semakin nekad saja.
“Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?” lanjutku.
“Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik Didi kimpoi. Sudah kerja, sudah punya mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo”, kata Bu Tono.
“Eeh, benar nih Bu Tono. Aku cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan aku Bu. Tolong carikan yang kayak Ibu Tono ini lhoo”, kataku menggodanya.
“Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi”, katanya sambil ketawa.

Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, Bu Tono harus aku dapatkan.
“Eeh, Bu Tono. Kita kan nggak usah buru-buru nih. Di rumah Bu Tono juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa”, ajakku dengan penuh kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.
“Tapi nanti kemaleman lo Dik”, jawabnya.
“Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu”, aku sedikit memaksa.
“Yaa gimana yaa… ya deh terserah Dik Didi. Tapi nggak malam-malam lho.” Bu Tono setuju. Batinku bersorak.
Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin aku persempit.
“Eeh, aku benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak Bu Tono dong Bu. benar nih. Soalnya begini bu, tapii eeh nanti Bu Tono marah sama saya. Nggak usaah aku katakan saja deh”, kubuat Bu Tono penasaran.
“Emangnya kenapa siih.” Bu Tono memandangku penuh tanda tanya.
“Tapi janji nggak marah lho.” kataku memancing. Dia mengangguk kecil.
“Anu bu… tapi janji tidak marah lho yaa.”
“Bu Tono terus terang aku terobsesi punya istri seperti Bu Tono. Aku benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan Bu Tono. Aku menyadari ini nggak betul. Bu Tono kan istri tetanggaku yang harus aku hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali bu. aku sudah kurang ajar sekali”, kataku menghiba. Bu Tono melongo, memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring. 

Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.
Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dalam mobil aku berpikir, ini sudah telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir. Di luar dugaanku, Bu Tono balas meremas tanganku. Batinku bersorak. Aku tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang. Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. Aku kaget.
“Awaas! hati-hati!” Bu Tono menjerit kaget.
“Aduh nyalib kok nekad amat siih”, gerutuku.
“Makanya kalau nyetir jangan macam-macam”, kata Bu Tono. Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di rumah aku hanya sampai pintu masuk, aku lalu pamit pulang.

Di rumah aku mencoba untuk tidur. Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan Bu Tono yang sekarang sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah Bu Tono. Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu aku sudah keluar rumah. Aku mendatangi kamar Bu Tono. Dengan berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca nakonya, “Buu Tono, aku Didi”, kataku lirih. Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin Bu Tono bangun dan takut. Bisa juga mengira aku maling. “Aku Didi”, kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. “Lewat belakang!” kata Bu Tono. Aku menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu terbuka, aku masuk, pintu tertutup kembali. Aku nggak tahan lagi, Bu Tono aku peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut dan mesra, penuh kerinduan. Bu Tono membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.
“Aku nggak bisa tidur”, bisikku.
“Aku juga”, katanya sambil memelukku erat-erat.

Dia melepaskan pelukannya. Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman lagi dengan lebih bernafsu. “Buu, aku kangen bangeeet. Aku kangen”, bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora. Aku ditariknya ke tempat tidur. Bu Tono membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Bu Tono menyingkapkan dasternya ke atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung. Aku nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai aku nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya kupelorotkan, dan Bu Tono meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya. Dengan sigap aku melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. Bu Tono segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli dan nikmat sekali. Aku sudah nggak sabar lagi. Aku naiki tubuh Bu Tono, bertelekan pada sikut dan dengkulku.

Kaki Bu Tono dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk, semakin dalam, semakin… dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan Bu Tono. Aku turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan Bu Tono yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu. “Aduuh, Dik Didi, Dik Didii… enaak sekali, yang cepaat.. teruus”, bisik Bu Tono sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi. Suaranya vagina Bu Tono kecepak-kecepok, menambah semangatku. “Dik Didiii aku mau muncaak… muncaak, teruus… teruus”, Aku juga sudah mau keluar. Aku percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tono sampai amblaas. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina Bu Tono. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, aku merasa lemas sekali tetapi puas sekali.

Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.
“Dik Didi, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya aku sendiri kan. Dengan siapa aku membuat anak”, katanya sambil mencubitku. Malam itu pertama kali aku menyetubuhi Bu Tono tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai aku kimpoi dengan wanita lain. Bu Tono walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.
Keluarga Pak Tono sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di kedepankan, Bu Tono sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis. Tetanggaku pada meledek Bu Tono, mungkin waktu hamil Bu Tono benci sekali sama aku. Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi, hidung, dan bibirku.

Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan Bu Tono istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut sampai kini, walaupun aku telah berumah tangga. Namun dalam perkimpoianku yang sudah berjalan dua tahun lebih, kami belum dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh semangat. Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah naik. Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya aku masukkan saja penisku ke vaginanya. Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. Aku sendiri terus terang setiap saat melihat istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.

Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga aku jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas aku tidak. Karena sudah terbukti Bu Tono hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan keluarga Pak Tono. Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, aku yakin istriku subur juga. Apakah aku kena hukuman karena aku selingkuh dengan Bu Tono? aah, mosok. Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi Bu Tono itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan.

Untuk mengatur perselingkuhanku dengan Bu Tono, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya diketahui kami berdua. Apabila Pak Tono tidak ada di rumah dan benar-benar aman, Bu Tono memadamkan lampu di sumur belakang rumahnya. Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam, berarti keadaan aman dan aku dapat mengunjungi Bu Tono. (Anda dapat meniru caraku yang sederhana ini. Gratis tanpa bayar pulsa telepon yang makin mahal). Karena dari samping rumahku dapat terlihat belakang rumah Bu Tono, dengan mudah aku dapat menangkap tanda tersebut. Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Tono sudah bosan denganku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.

Pada suatu hari aku berpapasan dengan Bu Tono di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, “Dik Didi, besok malam minggu ada keperluan nggak?”
“Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?” jawabku dengan penuh harapan karena sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.
“Nanti ke rumah yaa!” katanya dengan tersenyum malu-malu.
“Emangnya Pak Tono nggak ada?” kataku. Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.

Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. Aku sudah bersiap untuk menemui Bu Tono. Aku hanya memakai sarung, (tidak memakai celana dalam) dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan memang kalau tidur aku tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam celana dalam yang ketat.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah Bu Tono sudah padam dari Tono. Aku berjalan memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, aku menuju ke samping rumah Bu Tono. Aku ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menuju ke pintu belakang. Tidak berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali. Aku berjalan beriringan mengikuti Bu Tono masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali, kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Setelah itu, Bu Tono mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami berpandangan mesra, Bu Tono tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di dadaku.

“Paa, sudah lama kita nggak begini”, katanya lirih. Bu Tono sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya. Nampaknya Bu Tono menghayati betul bahwa Ani, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.
“Pak Tono sedang kemana sih maa”, tanyaku.
“Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. Aku sengaja nggak ikut dan hanya Ani saja yang ikut. Tenang saja, pulangnya baru besok sore”, katanya sambil terus mendekapku.
“Maa, aku mau ngomong nih”, kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. Bu Tono diam saja dan memandangku penuh tanda tanya.
“Maa, sudah dua tahun lebih aku berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu, mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah. Aku jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. Aku nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam”, kataku agak melucu. Bu Tono memandangku.
“Pa, aku harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau aku hamil lagi, aku yakin suamiku tidak akan mengijinkan adiknya Ani kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali. Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia. Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus”, katanya sambil merenggut manja. Aku tersenyum kecut.
“Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, Aku dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa”, kataku.
“Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rini (nama istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil”, katanya menghiburku.
“Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa…”
“Enak saja. Didoain? Mustinya aku kan nggak rela Papa menyetubuhi Rini istrimu itu. Mustinya 

Papa kan punyaku sendiri, aku monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan. Kok malah minta didoain. Gimana siih”, katanya manja dan sambil memelukku erat-erat. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Ani itu anak kami.
“Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan nggak jadi main nih”, kataku menggoda.
“Iiih, dasar”, katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.
“Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap doong!” katanya manja.

Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja. Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. Bu Tono mandah saja. Pasrah saja mau diapain. Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH). Celana dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu aku pelorotkan. Aku benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan itu sungguh indah. Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu,buah dada yang putih menggunung, perut yang langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona. Aku tidak tahan lagi. Aku lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. Aku segera naik di atas tubuh Bu Tono. Kugumuli dia dengan penuh nafsu. Aku tidak peduli Bu Tono megap-megap keberatan aku tindih sepenuhnya. Habis gemes banget, nafsu banget sih.

“Uugh jangan nekad tho. Berat nih”, keluh Bu Tono.
Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget aku paskan ke vaginanya. Terampil tangan Bu Tono memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah. Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina Bu Tono dengan penisku. Bu Tono semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih. Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.
“Teruuus, teruus paa.. sshh… ssh…” bisik Bu Tono
“Maa, aku juga sudah mau… keluaarr”,
“Yang dalam paa… yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa… Paa… Adduuh Paa nikmat banget Paa…, ouuch..”, jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat. Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruuut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. Bu Tono menggigit pundakku. 

Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia aku tindih dan dia merangkul kuat-kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, aku gerakkan pelan-pelan, aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku. Kucabut penisku dan aku terguling di samping Bu Tono. Bu Tono miring menghadapku dan tangannya diletakkan di atas perutku. Dia berbisik, “Paa, Ani sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya paa. Aku ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa Tono mengeluh Rini belum hamil, aku memang sudah berniat untuk membuatkan Ani seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau aku hamil lagi berarti Papa masih joosss. Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Ani sama adiknya yang baru saja dibuat ini.” Dia tersenyum manis. Aku diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.

Malam itu aku bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan dan cinta kasih kami malam itu. Dan aku menunggu dengan harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua di rahim istri gelapku ini?

Bagaimana Dengan Cerita Nya? Menarik Bukan Karena Di Sini Kita Bisa Ikut Merasakan Rasa Nya Melalui Cerita Dewasa Nya Ini.Oleh Karena Ini Jangan Lupa Untuk Di Simak Cerita Hot Lainnya Di Bawah Ini :

Kamis, 14 Januari 2016

Kisah Nyata Cerita Dewasa Swinger Kami

Kisah Nyata Cerita Dewasa Swinger Kami

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata


Cerita Dewasa ini adalah Pengalaman Sex Kisah Nyata Cerita Dewasa Swinger Kami merupakan pengalaman sex yang sangat susah untuk di lupakan. Cerita sex kali ini berdasarkan pengalaman dari pengirim cerita yang tidak mau di sebutkan nama nya , untuk menghormati itu kami menggunakan nama palsu dalam Cerita 17+  kali ini.Untuk itu silahkan langsung di simak cerita nya :

Nama saya Andika, saya berumur 28 tahun, baru 3 (tiga) bulan bekerja di suatu perusahaan asing di Jakarta, atasan saya Mr. Ricardo Handerson, berasal dari Amerika, kira-kira berumur 40 tahun. Dalam waktu singkat Rich demikian teman-teman di kantor suka memanggilnya, telah sangat akrab dengan saya, karena kebetulan kami mempunyai hobi yang sama yaitu bermain golf. Perusahaan tempat kami bekerja adalah suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang advertising. 

Menurut cerita-cerita teman-teman istri Ricardo, yang berasal dari Amerika juga, sangat cantik dan badannya sangat seksi, seperti bintang film Hollywood. Aku sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan istri Ricardo, hanya melihat fotonya yang terletak di meja kerja Ricardo. Suatu hari saya memasang foto saya berdua dengan Nani istri saya, yang berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya. Pada waktu Ricardo melihat foto itu, secara spontan dia memuji kecantikan Nani dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Ricardo sering melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.

Suatu hari Ricardo mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.
“Dik, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nani juga, sekalian makan malam”.
“Lho, ada acara apa boss?”, kataku sok akrab.
“Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.
“Okelah!”, kataku.

Sesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Nani. Pada mulanya Nani agak segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah kuyakinkan bahwa Ricardo dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Nani mau juga pergi.
“Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.
“Tau, katanya sih, ada proyek apa.., yang mau didiskusikan”.
“Ooo.., gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit pipinya dengan gemas. Kalau melihat Nani, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu senam so.., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat kencang. Cerita Sex 2016

Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Ricardo yang terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik, sementara Nani memakai stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Sesampai di Apertemen no.1009, aku segera menekan bel yang berada di depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yang sangat cantik, dengan tinggi sedang dan berbadan langsing, yang dengan suara medok menegur kami.
“Oh Andika dan Nani yah?, silakan.., masuk.., silakan duduk ya!, saya Lola istrinya Ricardo”.

Ternyata Lola badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Ricardo. Dengan agak tergagap, aku menyapanya.
“Hallo Mam.., kenalin, ini Nani istriku”.
Setelah Nani berkenalan dengan Lola, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Ricardo mengajakku ke teras balkon apartemennya.
“Gini lho Dik.., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini.., ini.., dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu”.
“Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup. Berani!”.

Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.
Senyum Ricardo segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.
“Eh Dik.., gimana Lola menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.
“Ya.., amat cantik, seperti bintang film”, kataku dengan polos.
“Seksi nggak?”.
“Lha.., ya.., jelas dong”.
“Umpama.., ini umpama saja loo.., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Lola untuk kamu gimana?”.

Mendenger permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung, perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu. Sambil masih tersenyum-senyum, Ricardo melanjutkan, “Nggak ada paksaan kok, aku jamin Nani dan Lola pasti suka, soalnya nanti.., udah deh pokoknya kalau kau setuju.., selanjutnya serahkan pada saya.., aman kok!”.

Membayangkan tampang dan badan Lola aku menjadi terangsang juga. Pikirku kapan lagi aku bisa menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya bisa membayangkan saja pada saat menonton blue film. Tapi dilain pihak kalau membayangkan Nani dikerjain si bule ini, yang pasti punya senjata yang besar, rasanya kok tidak tega juga. Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Ricardo telah melanjutkan dengan pertanyaan lagi, “Ngomong-ngomong Nani sukanya kalo making love style-nya gimana sih?”.

Tanpa aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan, “Dia tidak suka style yang aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat terangsang!”.
“Wow.., aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau khas wanita terpancar dari situ.., itu membuat saya sangat terangsang!”, kata Ricardo.
“Kalau Lola sangat suka main di atas, doggy style dan yang jelas suka blow-job” lanjutnya.

Mendengar itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian bawahku membayangkan senjataku diisap mulut mungil Lola itu.
Kemudian lanjut Ricardo meyakinkanku, “Oke deh.., enjoy aja nanti, biar aku yang atur. Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu orangnya selalu terbuka dalam soal seks.., jadi setuju aja”.

“Nanti minuman Nani aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih berani.., Oke.., yaa!”, saya agak terkejut juga, apakah Ricardo akan memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau begitu tidak rela aku. Aku setuju asal Rina mendapat kepuasan juga. Melihat mimik mukaku yang ragu-ragu itu, Ricardo cepat-cepat menambahkan, “Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, kemudian dia menjelaskan selanjutnya, “Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lola ya, Nani di sampingku”.

Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Ricardo. Setelah makan malam selesai kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Rina kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat halus, duduknya kelihatan tidak tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan keringatnya lebih banyak keluar. Melihat tanda-tanda itu, Ricardo mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Nani, “Ni.., mari duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!”, dan tanpa menunggu jawaban Nani, Ricardo segera berdiri, menarik kursi Nani dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yang terletak di ruang tengah. Aku ingin mengikuti mereka tapi Lola segera memegang tanganku. “Dik, diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok”. 

Memang dari ruang makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Ricardo mulai bergerilya di pundak dan punggung Nani, memijit-mijit dan mengusap-usap halus. Sementara Nani kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat sedikit menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali tangan Ricardo yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya.

Lola kemudian menarikku ke kursi panjang yang terletak di ruang makan. Dari kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yang terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi panjang tersebut. Terlihat tindakan Ricardo semakin berani, dari belakang tangannya dengan trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Nani hingga kancing terakhir. BH Nani segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya. 

Kelihatan mata Nani terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga, “Apakah Nani telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Ricardo?, atau apakah Nani pingsan atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Ricardo?”. Nani tampaknya pasrah seakan-akan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Nani seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Ricardo dikulitnya dan ciuman nafsu Ricardopun disambutnya dengan gairah.

Melihat apa yang tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa kepalang tanggung, aku juga tidak mau rugi, segera kualihkan perhatianku pada istri Ricardo yang sedang duduk di sampingku. Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke dalam rok Lola, terasa bukit kemaluannya sudah basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang mengerjai wanita mungil. Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Lola yang mungil itu, “aahh.., aaghh.., aagghh”, tubuhnya mengejang, sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

Sementara itu di ruang sebelah, Ricardo telah meningkatkan aksinya terhadap Nani, terlihat Nani telah dibuat polos oleh Ricardo dan terbaring lunglai di sofa. Badan Nani yang ramping mulus dengan buah dadanya tidak terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya yang rata dan kedua bongkahan pantatnya yang terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yang membukit yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang terletak diantara kedua paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Ricardo. 

Kemudian Ricardo menarik Nani berdiri, dengan Ricardo tetap di belakangnya, kedua tangan Ricardo menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat melihat ekspresi wajah Nani, yang dengan matanya yang setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian yang melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yang mungil setengah terbuka, menunjukan Nani menikmati benar permainan dari Ricardo terhadap badannya itu, apalagi ketika jemari Ricardo berada di semak-semak kewanitaannya, sementara tangan lain Ricardo meremas-remas puting susunya, terlihat seluruh badan Nani yang bersandar lemas pada badan Ricardo, bergetar dengan hebat.

Saat itu juga tangan Lola telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku sendiri. Setelah Lola selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow.., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah mengeras, yang terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang. Aku menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Ricardo, tentu aku kalah jauh dan kalau aku langsung main tusuk saja, tentu Lola tidak akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai teknik yang lain dari lain. Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.

Kududukkan Lola kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah vaginanya yang telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya. Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lola berteriak-teriak keenakan dengan suara keras, ” Ooohh.., oohh.., sshh.., sshh”. Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya. 

Pada saat bersamaan suara Nani terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah, “Oooh.., aagghh!”, diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak. Tak tahu apa yang diperbuat Ricardo pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Nani sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Ricardo sedang berjongkok diantara kedua paha Nani yang sudah terpentang dengan lebar, kepalanya terbenam diantara kedua paha Nani yang mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Ricardo sedang mengaduk-aduk kemaluan Nani yang mungil itu. Terlihat badan Nani menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Ricardo dengan kuat.

Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Lola yang badannya terus menggerinjal-gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan, “Ahh.., yaa.., yaa.., jilatin.., Ummhh”. Desahan-desahan nafsu yang semakin menegangkan otot-otot penisku. “Aahh.., Dik.., akuu.., aakkuu.., oohh.., hh!”, dengan sekali hentakan keras pinggul Lola menekan ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan hebat dan diikuti dengan cairan hangat yang merembes di dinding vaginanya pun semakin deras, saat ia mencapai organsme. Tubuhnya yang telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yang juga penuh keringat, dengan tatapan yang sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh.

Ketika aku menengok ke arah Ricardo dan istriku, rupanya mereka telah berganti posisi. Nani kini telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa, punggung Nani bersandar pada sandaran sofa, sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran tembak Ricardo. Ricardo mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nani yang telah terpentang lebar. Aku merasa sangat terkejut juga melihat senjata Ricardo yang terletak diantara kedua pahanya yang berbulu pirang itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm dengan lingkaran yang kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.

Terlihat Ricardo memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Nani yang sudah sedikit terbuka, terlihat Nani dengan mata yang terbelalak melihat ke arah senjata Ricardo yang dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya. Kedua tangan Nani kelihatan mencoba menahan badan Ricardo dan badan Nani terlihat agak melengkung, pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Ricardo pada bibir vaginanya, akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Nani dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Nani, sambil mencium telinga kiri Nani, terdengar Ricardo berkata perlahan, “Naann.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang.., boleh?”, terlihat kepala Nini hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang mau dikatakannya, dengan pandangannya yang sayu menatap ke arah kemaluannya yang sedang didesak oleh penis raksasa Ricardo itu dan mulutnya terkatup rapat seakan-akan menahan kengiluan.

Ricardo, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Nani yang telah basah itu, biarpun kedua tangan Nani tetap mencoba menahan tekanan badan Ricardo. Mungkin, entah karena tusukan penis Ricardo yang terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over size, langsung saja Nani berteriak kecil, “Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih”, terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yang agak meringis, mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Nani yang mengangkang itu terlihat menggelinjang. Kepala penis Ricardo yang besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Nani, kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat kepala penis Ricardo, sehingga belahan kemaluan Nani terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Ricardo itu. Kedua bibir kemaluan Nani tertekan masuk begitu juga clitoris Nani turut tertarik ke dalam akibat besarnya kemaluan Ricardo.

Ricardo menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman, “Maaf.., Nan.., saya sudah menyakitimu.., maaf yaa.., Naan!”.
“aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa.., aakan.., terbelah.., niih.., sakiitt.., jangan.., diiterusiinn”.
Nani mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Ricardo.
“Naann.., saya mau masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa.., kalau Nani masih merasa sakit”, sahut Ricardo dan tanpa menunggu jawaban Nani, segera saja Ricardo melanjutkan penyelaman penisnya ke dalam lubang vagina Nani yang tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan.

Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluan Nani, terlihat muka Nani meringis, tetapi sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.
Terdengar Ricardo bertanya lagi, “Naann.., sakit.., yaa?”, Nani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu Ricardo dan Ricardo segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk ke dalam lubang kemaluan Nani.

Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya. Ketika penis Ricardo telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vagina Nani, terlihat Nani telah pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tidak lagi menolak badan Ricardo, akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa. Ricardo menekan lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Nani meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar, tetapi karena Nani tidak mengeluh maka Ricardo meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja, “Blees”, Ricardo menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Nani rapat-rapat pada sofa.

Pada saat yang bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Nani, “Aduuh”, sambil kedua tangannya mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke atas menahan tekanan penis Ricardo di dalam kemaluannya. Ricardo mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Nani sejenak, agar tidak menambah sakit Nani sambil bertanya lagi, “Naann.., sakit.., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!”, Nani dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang, “aagghh.., kit!”, lalu Ricardo mencium wajah Nani dan melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat pantat Ricardo bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Nani dalam pelukannya.

Tak selang lama kemudian terlihat badan Nani bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan panjang, “Aaduuh.., oohh.., sshh.., sshh”, kedua kaki Nani bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada pantat Ricardo, Nani mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan. Selang sesaat badan Nani terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Ricardo yang masih tetap berayun-ayun itu.

Aah, suatu pemandangan yang sangat erotis sekali, suatu pertarungan yang diam-diam yang diikuti oleh penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.
“Dik.., ayo aku mau kamu”, suara Lola penuh gairah di telingaku. Kuletakkan kaki Lola sama dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yang akan masuk ke vaginanya. Duh, rasanya kemaluan Lola masih rapet saja, aku merasakan adanya jepitan dari dinding vagina Lola pada saat rudalku hendak menerobos masuk.

“Lill.., kok masih rapet yahh”. Maka dengan sedikit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos liang vaginanya. “Aagghh”, mata Lola terpejam, sementara bibirnya digigit. Tapi ekspresi yang terpancar adalah ekspresi kepuasan. Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan gerakan keluar masuk di liang vaginanya. Diiringi erangan dan desahan Lola setiap aku menyodokkan penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa liang kemaluannya semakin licin oleh pelumas vaginanya.
“Ahh.., ahh”, Lola makin keras teriakannya.
“Ayo Dik.., terus”.
“Enakk.., eemm.., mm!”.

Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, “Uuhh..hh..” “Lola.., boleh di dalam.., yaah”, aku perlu bertanya pada dia, mengingat aku bisa saja sewaktu-waktu keluar.
“mm..”.
Kaki Lola kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku semakin mempercepat gerakan sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya. Lola juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya.
“Nih.., Lola.., terima yaa”.

Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan Lola dengan erat dan penisku terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan maniku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Lola. Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Lola, sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga vagina Lola, tiba-tiba badan Lola bergetar dengan hebat dan kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya, “..aagghh.., hhm!”, saat bersamaan Lola juga mengalami orgasme dengan dahsyat.

Setelah melewati suatu fase kenikmatan yang hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih berpelukan erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa yang baru kami alami. Aku kemudian mencabut senjataku yang masih berlepotan dan mendekatkannya ke muka Lola. Dengan isyarat agar ia menjilati senjataku hingga bersih. Ia pun menurut. Lidahnya yang hangat menjilati penisku hingga bersih. “Ahh..”. Dengan kepuasan yang tiada taranya aku merebahkan diri di samping Lola.

Kini kami menyaksikan bagaimana Ricardo sedang mempermainkan Nani, yang terlihat tubuh mungilnya telah lemas tak berdaya dikerjain Ricardo, yang terlihat masih tetap perkasa saja. Gerakan Ricardo terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan. Mulai saat ini Ricardo mengerjai Nani dengan sangat brutal dan kasar. Nani benar-benar dipergunakan sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Ricardo menyakiti Nani, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan Nani ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Nani atas apa yang dilakukan oleh Ricardo terhadapnya.

Ricardo mencabut penisnya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Nani berjongkok diantara kedua kakinya, kepala Nani ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Nani sambil memegang belakang kepala Nani, dia membantu kepala Nani bergerak ke depan ke belakang, sehingga penisnya terkocok di dalam mulut Nani. Kelihatan Nani telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yang diingini oleh Ricardo, hal ini dilakukan Ricardo kurang lebih 5 menit lamanya.

Ricardo kemudian berdiri dan mengangkat Nani, sambil berdiri Ricardo memeluk badan Nani erat-erat. Kelihatan tubuh Nani terkulai lemas dalam pelukan Ricardo yang ketat itu. Tubuh Nani digendong sambil kedua kaki Nani melingkar pada perut Ricardo dan langsung Ricardo memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Nani. Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Nani terlihat tersentak ke atas ketika penis raksasa Ricardo menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dari mulutnya terdengar keluhan, “aagghh!”, Nani terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Ricardo. Kaki Nani terlihat merangkul pinggang Ricardo, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Ricardo. Ricardo berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Nani. Pantat Nani terlihat merekah dan tiba-tiba Ricardo memasukkan jarinya ke lubang pantat Nani. “Ooohh!”. Mendapat serangan yang demikian serunya dari Ricardo, badan Nani terlihat menggeliat-geliat dalam gendongan Ricardo. Suatu pemandangan yang sangat seksi.

Ketika Ricardo merasa capai, Nani diturunkan dan Ricardo duduk pada sofa. Nani diangkat dan didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Nani terkangkang di samping paha Ricardo dan Ricardo memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Nani dari bawah. Dari ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Ricardo memaksa masuk ke dalam lubang kemaluan Nani yang kecil dan ketat itu. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Ricardo menyentuh paha Nani. Kedua tangan Ricardo memegang pinggang Nani dan membantu Nani memompa penis Ricardo secara teratur, setiap kali penis Ricardo masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Ricardo. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.

Kemudian Ricardo mendorong Nani tertelungkup pada sofa dengan pantat Nani agak menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Ricardo akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yang paling disukai oleh Nani. Dari belakang pantat Nani, Ricardo menempatkan penisnya diantara belahan pantat Nani dan mendorong penisnya masuk ke dalam lubang vagina Nani dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke dalam vagina Nani. Jari jempol tangan kiri Ricardo dimasukkan ke dalam lubang pantat. Nani setengah berteriak, “aagghh!”, badannya meliuk-liuk mendapat serangan Ricardo yang dahsyat itu. Badan Nani dicoba ditarik ke depan, tapi Ricardo tidak mau melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan Nani dan mengikuti arah badan Nani bergerak.

Nani benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan, “Ooohhmm.., aaduhh!”. Ricardo mencapai payudara Nani dan mulai meremas-remasnya. Tak lama kemudian badan Nani bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar, “Aahh.., aahh.., sshh.., sshh!”. Nani mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Ricardo mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat Nani, penisnya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan Nani dari belakang. Sementara badan Nani bergetar-getar dalam orgasmenya, Ricardo sambil tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam lubang kemaluan Nani, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya yang berada di dalam lubang vagina Nani ikut berputar-putar mengebor liang vagina Nani sampai ke sudut-sudutnya.

Setelah badan Nani agak tenang, Ricardo mencabut penisnya dan menjilat vagina Nani dari belakang. Vagina Nani dibersihkan oleh lidah Ricardo. Kemudian badan Nani dibalikkannya dan direbahkan di sofa. Ricardo memasukkan penisnya dari atas, sekarang tangan Nani ikut aktif membantu memasukkan penis Ricardo ke vaginanya. Kaki Nani diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Ricardo. Ricardo terus menerus memompa vagina Nani. Badan Nani yang langsing tenggelam ditutupi oleh badan Ricardo, yang terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Ricardo. Kadang-kadang terlihat tangan Nani meraba dan meremas pantat Ricardo, sekali-kali jarinya di masukkan ke dalam lubang pantat Ricardo. Gerakan pantat Ricardo bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat penisnya yang besar itu dengan cepat keluar masuk di dalam lubang vagina Nani, tiba-tiba, “Ooohh.., oohh!”, dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang terlonjak-lonjak, Ricardo menekan habis pantatnya dalam-dalam, mememetin pinggul Nani ke sofa, sehingga penisnya terbenam habis ke dalam lubang kemaluan Nani, pantat Ricardo terkedut-kedut sementara penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Nani, sambil kedua tangannya mendekap badan Nani erat-erat. Dari mulut Nani terdengar suara keluhan, “Sssh.., sshh.., hhmm.., hhmm!”, menyambut semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya.

Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Ricardo kemudian merebahkan diri di atas badan Nani yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya dari vagina Nani. Nani melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat. Aku tidak bisa melihat ekspresi Ricardo karena terhalang olah tubuh Nani. Yang jelas dari sela-sela selangkangan Nani mengalir cairan mani. Kemudian Nanipun seperti kebiasaan kami membersihkan penis Ricardo dengan mulutnya, itu membuat Ricardo mengelinjang keenakan. Malam itu kami pulang menjelang subuh, dengan perasaan yang tidak terlupakan. Kami masih sempat bermain 2 ronde lagi dengan pasangan itu.

Bagaimana Dengan Cerita Nya? Menarik Bukan Karena Di Sini Kita Bisa Ikut Merasakan Rasa Nya Melalui Cerita Dewasa Nya Ini.Oleh Karena Ini Jangan Lupa Untuk Di Simak Cerita Hot Lainnya Di Bawah Ini :